Mengenal lebih dalam Terumbu Karang

Pengenalan Terumbu Karang

Indonesia sudah lama dikenal sebagai pusat keanekaragaman jenis terumbu karang Dunia. Peneliti senior dari Oseanografi LIPI Prof. Suharsono memperkirakan terdapat 590 jenis karang dari 80 marga tersebar dari mulai Sabang hingga Jayapura. Berdasarkan citra satellite, diperkirakan luasan terumbu karang Indonesia mencapai 2,5 juta hektar (BIG).

Indonesia sudah lama dikenal sebagai pusat keanekaragaman jenis terumbu karang Dunia. Peneliti senior dari Oseanografi LIPI Prof. Suharsono memperkirakan terdapat 590 jenis karang dari 80 marga tersebar dari mulai Sabang hingga Jayapura. Berdasarkan citra satellite, diperkirakan luasan terumbu karang Indonesia mencapai 2,5 juta hektar (BIG).

Berdasarkan fungsinya, terumbu karang memiliki segudang manfaat mulai dari segi ekologi maupun ekonomi. Sebagai penyedia habitat bagi biota laut yang bernilai ekonomis tinggi bagi nelayan, terumbu karang memiliki peranan yang sangat krusial bagi kehidupan masyarakat di pesisir. Peran dan fungsi yang begitu besar ini sayangnya belum banyak diketahui oleh semua kalangan.

Biologi Karang

Salah satu penyebab kerusakan terumbu karang adalah kurangnya informasi dan pengetahuan mengenai karang itu sendiri dikalangan masyarkat umum. Ada beberapa istilah penyebuatan dikalangan umum untuk hewan karang, diantaranya karang, terumbu karang dan ekosistem terumbu karang, apakah kalian mengetahui perbedaan istilah tersebut???


Apa itu karang? Terumbu Karang? Ekosistem Terumbu Karang?

Karang termasuk dalam golongan Hewan yang berbentuk seperti ubur-ubur terbalik secara biologi biasanya diistilahkan sebagai polip.

Terumbu merupakan kerangka kapur hasil endapan masif (CaCO3) yang terbentuk dari proses kalsifikasi.

Terumbu karang sendiri merupakan kumpulan hewan-hewan karang yang membentuk terumbu.

Ekosistem Terumbu karang adalahEkosistem laut dangkal yang dibentuk oleh kumpulan hewan karang dan mahluk hidup lain yang tinggal di dalamnya.

Hewan karang/polip memiliki berbagai bentuk dan ukuran, mulai dari yang sangat kecil sampai yang sangat besar (kasat mata). Dalam fase hidupnya, hewan karang bersimbiosis dengan alga bersel tunggal disebut dengan Zooxanthellae. Hewan karang mendapatkan share energy dari alga Zooxanthellae, sedangkan alga mendapatkan tempat yang aman untuk hidup didalam jaringan hewan karang.

Cara makan hewan karang terbagi menjadi 2 fase, yang pertama secara aktif yang kedua secara pasif. Fase Aktif dilakukan oleh hewan karang pada malam hari dengan menyaring makanan yang lewan dan tertangkap oleh tentakel karang. Fase Pasif dilakukan oleh Zooxanthellae dengan fotosintesis pada siang hari dan memberikan sebagian energy kepada hewan karang untuk membantu proses kalsifikasi (pembentukan kerangka kapur).

Berdasarkan tipe kelaminnya, tipe pertama yaitu Gonokoris yang artinya hanya memiliki kelamin jantan atau betina, sedangkan yang kedua yaitu Hermaprodit yaitu memiliki kelamin jantan dan betina. Perkembangbiakan/Reproduksi hewan karang dilalui melalui beberapa cara, yaitu Seksual dan Aseksual. Reproduksi seksual dilakukan dengan bertemunya sel kelamin jantan (sperma) dengan sel kelamin betina (sel telur), dimana fase ini biasa disebut dengan spawning. Sperma dan sel telur yang berhasil mengalami pembuahan, akan membentu larva planula. Larva planula ini akan menempel pada dasar perairan dan membentu terumbu karang yang baru.


Fase reproduksi seksual hewan karang (sumber : science magazine)

Secara Aseksual reproduksi hewan karang terbagi menjadi 2 cara yaitu bertunas dan membelah diri. Pertunasan dilakukan oleh induk karang dengan memunculkan individu hewan karang baru dari bagian bawah tubuhnya. Membelah diri dilakukan dengan membelah tubuh hewan karang menjadi dua individu. Dua Proses tersebut dilakukan oleh hewan karang untuk memperbesar ukuran dari koloni karang, bukan untuk menambah koloni karang baru.

Syarat Pertumbuhan

Pertumbuhan hewan karang secara maksimal terbatas hanya pada daerah tropis dengan suhu optimal mencapai 23 – 25 oC. Lokasi lain yang beriklim subtropics tetap dapat kita temukan terumbu karang, hanya keanekaragaman dan kecerahan warna yang dimiliki oleh karang tersebut sangat terbatas. Tidak hanya terbatas secara horizontal, secara veritkal (kedalaman perairan) pertumbuhan karang terbatas tidak lebih dari 50 m dengan optimal ditemukan pada kedalam 25 m. Faktor lainnya yang mempengaruhi pertumbuhan karang diantaranya salinitas (kadar garam perairan), kerjenihan, arus, gelompah serta pH.

Status saat ini

Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh LIPI tahun 2018, kondisi terumbu karang Indonesia yang berada pada kategori sangat baik hanya 6,56%. Kerusakan terumbu karang yang terjadi disebabkan oleh rusaknya habitat, kurangnya pengawasan, perdagangan dan penyelundupan illegal, polutan, gangguan kesehatan, bleaching serta minimnya kajian/penelitian mengenai terumbu karang. Berdasarkan data time series ekosistem terumbu karang selama 90 tahun di Low Isle (Utara Great Barrier Reef), dapat dilihat bahwa temperature suhu permukaan air laut (SST), pH serta kenaikan permukaan air laut terus mengalami peningkatan. Hal ini berbanding lurus dengan kerusakan akibat bleaching yang mengalami kenaikan pada 20 tahun terakhir.


Data time seriesĀ  kerusakan ekosistem terumbu karang di Low Isle


Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *